Sesungguhnya segala puji bagi Allah semata, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan serta bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tiada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau, atas keluarga dan segenap sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari Kemudian kelak. Amma ba’du:

Allah azza wa jalla berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيءءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ النساء 59

Artinya: jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalilah pada Allah (Alqur’an) dan Rasulnya (sunnahnya). An nisa’ : 59.

Jazzakumullah atas pelurusan yang antum berikan dimana antum telah memberikan komentar terhadap tulisan ana yang dicantumkan pada situs www. Salafywordpress.com.

Namun sebetulnya substansi pada tulisan ana bukan terletak pada perkataan Ali bin Abi Thalib –Radiallahuanhu- tersebut namun lebih jauh kepada cirri-ciri manhaj golongan selamat yang ana kutip dari kitab minhajul Firqah An-Najiyah watThaifah Al-Manshurah. Yang ditulis oleh syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -hafidzahullah-.

Alhamdulillah antum meluruskan pengantar artikel yang ana tulis di situs tersebut. Komentar tersebut antara lain:

1. Pendapat tersebut bukan pendapat yang disandarkan kepada shahabat yang mulia Ali bin abi thalib –radhiyAllahu ‘anhu.

2. Pendapat tersebut sangat bertentangan dengan apa-apa yang telah dibawa oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alayhi wa sallam, bahwa Dari Abu Hurairah –radhiyAllahu ‘anhu bahwa, ” (Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya, maka perhatikan siapa temanmu” (as-Shahihah 927)

3. Pendapat itu juga sangat tidak masuk akal, karena para shahabat –ridhwanulAllah ‘alayhim ketika terjadi fitnah Nabi palsu, mereka tidak memperhatikan apa yang disampaikan musailamah al-khadzdzab

4. Hikmah kita menolak perkataan bathil diatas bahwa “Salafy adalah manhaj yang bersih, bukan manhaj yang seenaknya diambil dari ‘tong-tong’ sampah, karena manhaj salaf cara memahami Islam yang dibawa oleh para generasi awal yang masih bersih, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam malik –rahimahullah ” Tidak akan menjadi baik generasi umat yang terakhir ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi pertamanya”

Namun ana merasa sangat bingung plus bertanya-tanya, bantahan antum sangat tidak relevan terhadap artikel yang ana tulis dan bantahan antum sangat jauh menyimpang , tidak sesuai pada tempatnya. Persis seperti apa yang dilakukan ahlul bid’ah yang menyelewengkan dalil-dalil dari tempat aslinya, hal ini adalah bentuk tahrif yang paling tersembunyi.

Banyak kalangan yang menginginkan kebaikan namun terjatuh didalamnya , karena sedikitnya bekal ilmu dan pemahamannya. Hal ini juga sebagai celah yang sangat luas bagi kebanyakan bid’ah, ana berdo’a kepada allah agar antum diselamatkan diselamatkan dari itu semua.

Jazakumullah terhadap abu faqih yang telah melakukan pelurusan kepada al akh abu yahya adz dzahabi, namun disini ana hanya perlu manambahkan sedikit pelurusan terhadap al akh abu yahya addzahabi.

Perkataan al akh abu yahya addzahabi:

1. Perkataan undzur ma qoola wa laa tandzur ma qoola tidak sah dari Sahabat Ali bin Abi Thalib –Radiallahuanhu-

Pelurusan:

a. Baiklah jika hal itu tidak sah nerasal dari ali bin abi thalib, namun hal tersebut tidaklah bertentangan dengan hadits nabi seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Jamil Zainu –Hafidzahullah- dalam kitabnya Minhajul Firqah An-Najiyah watThaifah Al-Manshurah mengatakan:

Allah telah mengutus segenap rasulNya kepada umat manusia. Allah memerintahkan mereka agar menyeru manusia beribadah kepada Allah dan mengesakanNya. Tetapi sebagian besar umat-umat itu mendustakan dakwah para rasul. Mereka menentang dan menolak kebenaran yang kepadanya mereka diseru, yakni tauhid. Oleh karena itu kesudahan mereka adalah kehancuran dan kebinasaan.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebe-rat atom rasa sombong.”

Kemudian beliau bersabda,

“Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Karenanya, setiap mukmin tidak boleh menolak kebenaran dan nasihat, sehingga menyerupai orang-orang kafir, juga agar tidak ter-jerumus ke dalam sifat sombong yang bisa menghalanginya masuk Surga. Maka hikmah (kebijaksanaan) adalah harta orang mukmin yang hilang. Di mana saja ditemukan, maka ia akan mengambil dan memungutnya.

Maka dari itu, kita wajib menerima kebenaran dari siapa saja, bahkan sampai dari setan sekalipun.

Kemudian beliau Syaikh Jamil Zainu –Hafidzahullah- melanjutkan dengan berdalil:

Tersebut dalam riwayat, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjadikan Abu Hurairah sebagai penjaga Baitul Maal.

Suatu hari, datang seseorang untuk mencuri, tetapi Abu Hurairah segera mengetahui, sehingga menangkap basah pencuri tersebut. Pencuri itu lalu mengharap, menghiba dan mengadu kepada Abu Hurairah, bahwa ia orang yang amat lemah dan miskin. Abu Hurairah tak tega, sehingga melepas pencuri tersebut.

Tetapi pencuri itu kembali lagi melakukan aksinya pada kali kedua dan ketiga. Abu Hurairah kemudian menangkapnya, seraya mengancam, “Sungguh, aku akan mengadukan halmu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam .”

Orang itu ketakutan dan berkata menghiba, “Biarkanlah aku, jangan adukan perkara ini kepada Rasulullah! Jika kau penuhi, sungguh aku akan mengajarimu suatu ayat dari Al-Qur’an, yang jika engkau membacanya, niscaya setan tak akan mendekatimu.” Abu Hurairah bertanya, “Ayat apakah itu?”

Ia menjawab, “Ia adalah ayat Kursi.” Lalu Abu Hurairah melepas kembali pencuri tersebut. Selanjutnya Abu Hurairah menceritakan kepada Rasulullah apa yang ia saksikan. Lalu Rasulullah bertanya padanya, “Tahukah kamu, siapakah orang yang berbicara tersebut? Sesungguhnya ia adalah setan. Ia berkata benar padahal dia adalah pendusta.” (HR. Al-Bukhari).

b. Ana takut antum bisa menjadi umat yang binasa akibat ada sesorang yang mengatakan hadist shohih yang berasal dari nabi antum tidak menerima, walaupun yang menyampaikan seorang anak kecil.

Ibnu Abbas berkata, “Hampir-hampir saja diturunkan atas kalian batu dari langit. Aku mengatakan kepada kalian, ‘Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, tetapi kalian mengatakan, ‘Abu Bakar berkata, Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Ibnu ‘Abdil Barr)
Syaikh Jamil Zainu –Hafidzahullah- dalam kitabnya Minhajul Firqah An-Najiyah mengatakan:

“Seorang pujangga menyenandungkan syair yang mengingkari orang-orang yang berdalih dengan ucapan para syaikh mereka. Ia berkata, “Aku katakan padamu, ‘Allah berfirman, RasulNya bersabda’,lalu kamu menjawab, ‘Syaikh saya telah berkata …’.” (Dikeluarkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalamtahqiq Musnadahmad, 5/47)

Kiranya hal tersebut cukup dijadikan hujjah, namun jika antum berkelit dengan perkataan – perkataan para imam, sungguh para imam itu tidak maksum, sedangkan Rasulullah adalah orang yang maksum.

Yang jelas, antum memiliki akal, gunakan akal itu untuk tunduk kepada al-qur’an dan as sunnah, bukan pada perkataan para imam….afwan ya akhi.

2. Pendapat tersebut bertentangan dengan hadist nabi yang berasal dari abu hurairah –radiallahuanhu- Rasulullah bersabda: Agama seseorang dikenal dari agama temannya, maka perhatikan siapa temanmu”.As-Shahihah.197.

Pelurusan :

Sungguh hal itu tidak bertentangan ya akhi, hal tersebut disampaikan oleh rasulullah agar jangan sampai kita bergaul dengan orang muslim yang tidak baik aqidah dan manhajnya, namun hadits tersebut tidaklah bertentangan sama sekali dengan bolehnya menerima kebenaran dari siapa saja, walaupun itu orang kafir sekalipun. Dan ana akan jabarkan satu-persatu:

a. Bolehnya mengambil kebenaran walaupun itu datangnya dari orang kafir sekalipun. Dalilnya:

Disebutkan dalam sebuah hadits shohih dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma,

“Bahwasanya ketika rasulullah datang kemadinah , beliau mendapati kaumyahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya kepada mereka,”hari apa ini, kok kalian berpuasa? ‘Mereka menjawab,’ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, sekaligus menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya.lalu Musa berpuasa pada hari ini sebagaitanda syukur dan kami juga puasa”. Maka Rasullullah bersabda,’kalau begitu , kami lebih berhak dan layak terhadap (untuk mengikuti) Musa daripada kalian.’Kemudian beliaupun berpuasa dan memerintahkan –kaum muslimin- untuk brpuasa pada hari itu.”(Shahih muslim/Kitab Ash-shiyam/bab Shaum yaumi ‘Asyura/hadits no.1911. Imam Ahmad dan Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits senada juga dari Ibnu Abbas.)

Imam Al-Hafizh Ibnu HajarAl-Asqalani rahimahullah berkata.”Sesungguhnya pertama kali nabi mengetahui hal tersebut dan menanyakannya (kepada orang yahudi) adalah setelah beliau datang kemadinah, bukan sebelumnya…..Ketika nabi datang ke Madinah dan tinggal hingga hari assyura, beliau mendapatkan orang-orang yahudi berpuasapadahari tersebut.”(Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari/Al-Hafizh Ahmadbin Ali Ibnu Hajar Al asqalani)

Ibnul Qoyyim –rahimahullah-berkata: “Tradisi yag kita tempuh dalam masalah-maslah agamakita, baik yang sulit maupun yang mudah, yaitu kami harus mengatakan apa adanya dan tidak boleh mempertentangkan satu dengan yang lainnya . Tidak boleh kita fanatic kepada kelompok teretntuuntuk melawan kelompok yang lain. Akan tetapikita sejalan dengan setiap kelompok yang mengikuti kebenaran dan kita menolak kelompok yang menyalahi kebenaran tanpa mengagungkan kelompok tertentu dan pendapat tertentu.”(Thariqul Hijrataini, hal.393)

Ibnu Taimiyah–rahimahullah-berkata: “Sikap yang benar ialah memberikan pujian terhadap setiap kaum yang dipuji Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana tersebut didalam Al-Qur’an dan Sunnah, dan mencela setiap kaum yang dicela oleh Allahdan Rasul-Nya, sebagaimana tersebut didalam al-Qur’an dan Sunnah.”(Majmu Al Fatawa 11/16).

Kemudian ana akan sebutkan bahwa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah–rahimahullah- juga menyebutkan bolehnya mengambil kebenaran dari siapa saja, beliau –rahimahullah- berkata: “Allah menyebutkan bahwa orang yahudi itu semula telah mengetahui kebenaran sebelum nabi muhammad di utus menjadi rasul. Akan tetapi tatkala kebenaran itu datang kepada mereka dibawa oleh golongan non yahudi, mereka menolaknya dan tidakmau mengikutinya. Keadaan semacam ini banyak sekali menimpa orang-orang yang mengaku golongan ahli ilmu atau ahli agama atau pemimpin tertinggi suatu golongan . Mereka tidakmau menerima hukum agama atau riwayat, kecualiyang dibawa oleh golongan mereka sendiri.”(Iqtidhaus shiratil mustaqim hal 8).

b. Imam Ahmad pernah mengambil periwayatan hadits dari orang-orang basrah yang berfaham qodoriyah. Disebutkan bahwasanya : “Ishak bertanya kepada Abu Abdillah (Imam ahmad): “Siapakah yang mengatakan behwa al qur’an itu makhluk?” beliau menjawab:”Aku menghubungkan perkara ini dengans segala bencana.”Kemudian Ishak berkata lagi: “Apakah kita harus memperlihatkan permusushan terhadap mereka atau membujuk mereka?”Beliau menjawab:”Penduduk Khurasan tidak mampu menghadapi mereka”. Jawaban ini berkenaan dengan pendapat beliautentang Qadariyah. Beliau meneruskan:”Sekiranya kita menolak periwayatan hadits dari Qodoriyah , niscaya kita telah meninggalkan riwayat yang banyak dari ahlul Basrah.”(Majmu Al-Fatawa Juz 28 : 211).

3. Pendapat itu juga tidak masuk akal, karena para sahabat ketika terjadi fitnah nabi palsu , mereka tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh Musailamah al Kadzab.

Pelurusan:

a. Ya akhi , antum ini bagaimana , Sudah jelas-jelas musailamah al kadzab menyampaikan ayat-ayat alqur’an palsu , dimana yang dibacakan bukan ayat-ayat alqur’an? Melainkan kebohongan ayat yang dibuatnya sendiri untuk menandingi indahnya bahasa al-qur’an?

b. Yang disampaikan musailamah al kadzab bukan berasal dari nash alqur’an dan as sunnah, jadi sudah sangat jelaslagi kepalsuannya.

c. Untuk lebih jelasnya baca lagi she antumkitab rihiqul maqtum atau siroh nabawiyah oleh syaikh Al Mubarakfuri, disitu lebih jelas, sejelas matahari di siang bolong.

4. Hikmah kita menolak perkataan bathil diatas bahwa “Salafy adalah manhaj yang bersih, bukan manhaj yang seenaknya diambil dari ‘tong-tong’ sampah, karena manhaj salaf cara memahami Islam yang dibawa oleh para generasi awal yang masih bersih, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam malik –rahimahullah ” Tidak akan menjadi baik generasi umat yang terakhir ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi pertamanya.”

Pelurusan:

a. Ana merasa sangat terpukul ketika antum menyebutkan bahwasanya manhaj salaf adalah manhaj yang bersih bukan manhaj yang diambil dari tong-tong sampah . Karena yang mengatakan seperti itu adalah antum sendiri, bukan siapa-siapa.

b. Jika antum sering mengatakan comot sana-comot sini adalah pekerjaannya kaum hizbiyyun, berarti antum telah menolak hadits dari Rasulullah yang ana sebutkan sebelumnya.

c. Sebagai contoh, ketika ada orang PKS katakanlah seperti itu mengatakan : “Ya Akhi janganlah engkau mencaci sesama muslim, karena rasulullah bersabda:

(( لاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَسَّسُوْا وَلاَ تَنَافَسُوْا وَلاَ تَجَسَّسُوْا وَلاَ تَنَاجَشُوْا وَلاَ تَهَاجَرُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا كَمَا أَمْرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ، اَلتَّقْوَى هَاهُنَا التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَـكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ))

“Janganlah kamu saling menghasut, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling mencari keburukan, sa-ling menawar lebih tinggi dengan maksud agar orang lain menawar lebih tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, jangan jual beli yang satu mengganggu jual beli yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa ada disini, takwa ada disini, kata Rasulullah sambil menunjuk dadanya. Cukup merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk dan hartamu, tetapi Ia melihat hati dan perbuatanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jika antum menolak hadits tersebut diatas padahal orang hizbiyyun yang mengatakan, maka diragukanlah syahadat antum……