Ushul Tsalasah

Oleh: Ustadz Ahmad Afwan Abdurrahman,Lc.MA

 

            Sebagai seorang mu’min kita wajib mengetahui 3 dasar dalam beraqidah dan ber Islam denganbenar, yaitu:

1.      Mengenal Allah Azza Wa Jalla (Ma’rifatullah)

Yaitu dengan mentaati segal perintahnya danmenjauhi segala larangannya.

2.      Mengenal Islam (Ma’rifatul Islam)

Yaitu dengan mempelajari Islam itu dengan benar beserta dalil-dalilnya.

3.      Mengenal Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam1

Yaitu dengan mengenal sunnah-sunnahnya.

Denganmengetahui dan mengamalkan 3 landasan pokok diatas kita dapat selamat baik didunia maupun diakhirat.

Dalam mengenal Allah Orang–orang sufi menanggap bahwa ma’rifatullah yang ada dalam hatinya sebagai ru’yatullah melihat allah dengan mata kepala. Padahal terkadang syaitan membayang-bayanginya dan mengatakan bahwa dirinyalah adalah tuhan (Widhatul wujud). Dan mereka salah kaprah dalam memahami ma’rifatullah. Hal inilah yang dipahami oleh orang-orang tasawuf.

Dan pemahaman sesat dan menyesatkan ini telah dijelaskan dalam Al qur’an, dimana Allah berfirman:

“ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan dialah yang mah mendengar lagi maha melihat.”(Asy-Syu’ara:11)

Orang-orang tasawuf ini ketika telah mencapai tingkatan widhatul wujud ia menyatakan bahwasanya apa yang dia kerjakan dan lakukan adalah perbuatan Allah Azza wajalla, bahkan ia tidak pernah melakukan ibadah wajib dan perbuatan ini adalah suatu bentuk kekufuran kepada Allah Azza Wajalla.

Adapun pemahaman yang benar dalam mengenal Allah (Ma’rifatullah) dalam mensifati-Nya adalah:

1.      Tanpa Ta’wil (Penafsiran)

2.      Tanpa Tahrif (Penyimpangan)

3.      Tanpa Ta’yif (Menanyakan bagaimana hakekatnya)

4.      Tanpa Ta’thil ( Meniadakan hakekatnya)

5.      Tanpa Tamtsil (Penyerupaan/menyamakan dengan makhluk)2

Imam Malik bin Anas rakhimakhumullah ditanya tentang cara atau keadaan istiwa (bersemayamnya Allah Azza Wa jalla), lalu Imam Malik menjawab:” Istiwa’ itu telah dipahami pengertiannya, sedang bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentanya adalah bid’ah.”

Para Salafus shalih (para sahabat) memahami Istiwa’ tanpa di ta’wil, Tahrif, Ta’yif, Ta’thil dan tamtsil, mereka memahami dan mengenal Allah Azza Wa jalla yaitu dengan mentaati perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Apabila pada saat sekarang ini ada yang menanyakan bahwasanya seorang manusia itu bisa melihat Allah di dunia (Mukasyafat/pembukaan tabir Allah) itu adalah suatu kebohongan besar , padahal Allah hanya berbicara pada Rasul-Nya dengan wahyu atau di balik tabir atau perantaraan malaikat Jibril.

Dan hal ini telah dijelaskan dalam Alqur’an, bahwasanya Allah berfirman:

“ Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu, atau dibelakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.”(QS.Asyura :51).1

            Dan berdasarkan hadits Abi Dzar, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Syaqiq, dia berkata:

“ Saya pernah bertanya kepada Rasulullah, apakah engkau telah melihat Allah, beliau menjawab, “Cahaya yang menghalangiku untuk melihat-Nya.”(HR.Muslim).

            Cukuplah seorang manusia itu ndikatakan sebagai pendusta apabila ia mengaku-ngaku Islam tapi tidak mau mengamalkan segala konsekuensinya.

            Bagaimana supaya kita dapat memahami Islam itu sendiri? Antara lain dengan mempelajari Al qur’an, karena dengan mempelajari Al qur’an, dapat menyelamatkan kita dari baik di dunia maupun akhirat. Serta kita tidak akan panik kalau kita membaca Al qur’an dimanapun kita berada.

            Imam Bukhari pada waktu masih kecil mengalami kebutaan pada matanya, dan yang dilakukan ibundanya untuk menyembuhkan matanya adalh dengan membaca Al qur’an setiap malam dan ibundanya selalu berdoa kepada Allah, dan lahamdulillah mata anaknya sudah bercahaya kembali.

            Ironis sekali nasib umat Islam sekarang ini, dimana kita bisa mengambil contoh dalam ilmu kedokteran, dimana penemu ilmu tersbut adalah seorang ilmuwan Islam yaitu Ibnu Sina, dimana ilmu tersebut banyak terdapat dalam Al qur’an, namun yang terjadi sekarang ini, justru ilmu kedokteran itu banyak dimanfaatkan orang-orang kuffar.

            Bagaimana kita memulai untuk mempelajari Al qur’an, yatu dengan belajar dan mengurangi perbuatan yang tidak berguna. Sebab kita berkomunikasi dengan Allah pada saat kita membaca Al qur’an , dikarenakan Al qur’an adalah wahyu dari Allah Azza Wa Jalla.

            Dan akan lebih sempurna apabila kita mempelajari Al qur’an dengan menghafal, mangkaji dan mengamalkannya, karena Allah Azza Wa Jalla berfirman:

“ Inilah suatu kitab yang kami turunkan kepadamu, kami telah restui agar mereka mengkaji ayat-ayat-Nya dan supaya dijadikan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.”(QS:Shaad :29).

            Kita berkomunikasi dengan Allah Azza wa Jalla pada saat kita membaca Al qur’an dikarenakan Al qur’an adalah wahyu dari Allah Azza Wa Jalla.

            Inilah kelebihan dari pengamalan 3 landasan pokok dalam Islam, serta dengan mempelajari Ad Dien (Agama), dimana rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang didatangkan kebaikan oleh Allah, maka Dia akan membuat orang itu mengerti agama.”1

            Ilmu agama disini bukan saja kita pelajari pada saat kita duduk dibangku sekolah saja, namun sampai  menjelang ajal menjemput kita, kita tetap belajar ilmu agama yatu dengan mengucapkan La Ila ha Ilallah.

 

 

                                         Disampaikan pada Ta’lim Kajian Aqidah tanggal 3 Desember 2004

           

 

 

 

 

 




1. Al-Ushuluts Tsalasah oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab

2. Manhaj Golongan Yang Selamat Oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu

1 . Ketika Syaikhul Islam Ibnu taimiyah ditanya tentang orang yang menyatakan bahwa dirinya pernah melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia , beliau menjawab: “Barang siapa diantara manusia yang mengatakan bahwa para wali atau selainnya bisa melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia , maka ia adalah seorang mubtadi'(Ahlul bid’ah) yang menyesatkan, yang berlawanan dengan kitab dan sunnah dan ijma’ Salaful Ummah, apalagi kalau menganggap dirimya lebih afdhal dari Musa alaihi wasallam maka dia harus disuruh taubat kalau mau, kalau dia menolak maka boleh dibunuh. Majmu’ Fatawa VI/512

 

1 Al Bukhari, kitabul Ilmi, bab “Man yaridillahu bihi Khairan”, Muslim, Kitab Az-Zaat, bab “An-Nahyu anil Mas’alah”