ustadz.jpgPertanyaan antum tentang apakah Ustadz Afwan membela Sayyid Quthub atau tidak, sudah  terjawab pada pertanyaan no .3 Kemudian apakah Ustadz afwan Sururiyah, Quthbiyah seperti tuduhan-tuiduhan yang dilontarkan? Maka kami jawab sebagai berikut:

Tidak benar bahwa ustadz afwan adalah sururi, quthbiyah, kami tahu bahwa tuduhan tersebut dari dulu dilontarkan kepada Ustadz Ahmad Afwan, dikarenakan kami tidak pernah mencela ulama yang dianggap quthbiyah dan sururriyah. Bahkan kitab kitab yang dipelajari selama ini adalah rata-rata berasal dari syaikh bin baz, syaikh utsaimin, syaikh al albani dan ulama kibar lainnya, dan tidak pernah ustadz afwan memberikan materi dari kitab –kitab yang dianggap oleh kelompok salafi yamani sebagai sururi.

Hanya karena beliau pernah menimba ilmu dari Syaikh Safar Al Hawali,[1] dan tidak pernah melecehkan ulama –ulama yang dituduh sururiyah lantas serta merta salafi yamani menuduh beliau sesat …Naudzubillahi min dzalik.

Tentunya tuduhan-tuduhan tersebut harus di sertai tahapan dan sesuai kaidah yang dituntunkan para ulama, tidak langsung mengahjr, mentabdi’ sebagi ahlul bid’ah dan lain sebagainya serta tuduhan lainnya.[2]

Dan perlu diingat bahwa dari dahulu sampai sekarang ahlusunnah wal jama’ah selalu digelari nama-nama yang buruk, dan Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,

وَلاَ تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ

 “Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (Al-Hujurat: 11)

Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi’i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, “Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah.”

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-berkata: “ Adapun ahlususnnah wal jama’ah tidak mengangkat suatu perkataan yang dijadikan sebagai standar untuk wala’ dan bara’ kecuali qur’an dan sunnah dan ijma’ salaful ummah. Dan mengangkat suatu perkataan /pendapat/ figure sebagai standar untuk wala’ dan bara’ yang bukan dari qur’an dan sunnah dan ijma’ salaf  adalah bid’ah . Termasuk adalah dengan memecah belah ummat dan memuji ummat dengan apa yang tidak diperintahkan oleh Allah. Seperti dikatakan pada seseorang,”apakah anda syakily atau qarfandy’. Beliau berkata’ nama-nama seperti ini adalah bathil dan tidak pernah diturunkan dalil kepadanya dan tidak ada dalam qur’an dan sunnah dan tidak ada dalam atsar-atsar yang diketahui salaful ummah. Dan kewajiban seorang muslim jika di Tanya seperti itu adalah mengatakan saya bukan syakily atau qarfandi, tetapi saya adalah muslim yang mengikuti qur’an dan sunnah.”

            Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- : “Muawiyah bin Abu sufyan pernahy bertanya kepada Ibnu Abbas- radiallahuanhu- :”Kamu berpihak kepada millah ‘Ali atau ‘Utsaman?”, berkata Ibnu Abbas:” Saya bukan di millah ‘Ali dan bukan di millah ‘Utsman, tetapi saya adalah di millah Rasulullah  T  [3]

            Lantas bagaimana dengan kelompok salafi Yamani yang sering menjuluki kelompok lain sebagai ahlul bid’ah, al pramuki, sururi, bungloniyin, dan seabrek nama – nama aneh lainnya, padahal hujjah belum tegak kepada kelompok yang mereka vonis sebagai ahlul bid’ah, apalagi yang mereke tuduh sebagai ahlul bid’ah sebagaian ada yang menimba ilmu dari ulama salaf abad ini, dikarenakan tidak bergabung dengan kelompok mereka (Salafi yamani-pen-)? Apakah kita yang merupakan faktor pemecah belah ataukah mereka?




[1] Mantan dekan jurusan aqidah Universitas umul Quro’Makkah, untuk penjelasan lebih lanjut tentang beliau,akan dibahas pada makalah yang berbeda.

[2] Untuk kaidah ini dapat dilihat di kitab Majmu fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Insya Allah akan kami bagikan ke ikhwan mengenai isi dan penjelasannya.

[3] Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Ibanatul Kubra 1/354,355 no.237,238).