Kamasjid-agung-pelita-2.JPGmi ucapkan jazzakumullah khairon atas pertanyaannya, sebelumnya ana ingin memberitahukan sepak terjang dakwah salafiyah yang terjadi di Samarinda, bahwa dulu, jauh sebelum antum mengenal manhaj salaf, ada sebagian ikhwan–ikhwan yang ikut ta’lim kepada ust.afwan, namun dikarenakan syubhat yang dimunculkan oleh teman-teman yang berasal dari salafi yamani, maka sebagian ikhwan terkena syubhat dan akhirnya bergabung dengan jama’ah salafy yamani. Pada awalnya mereka sering menyakan hal tersebut, persis seperti pertanyaan antum diatas, namun dikarenakan pertimbangan mafsadatnya (kerusakan) lebih besar, maka kami enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut , dikarenakan takut perkara tersebut bisa menimbulkan syubhat yang lebih dalam lagi, dan memang sebetulnya kami sendiri dulu belum faham betul apa itu ihya at turots , quthbiyah, sururiyah, dan lain sebagainya.
Namun setelah muncul fitnah/syubhat yang telah dilontarkan kepada kita, barulah  kami mendengar yang namanya sururiyah quthbiyah, dsb. Karena fitnah, ini maka sebagian ikhwan mulai sibuk mengghibah, membicarakan ustadz-ustadz yang di peringatkan (tahdzir) dan sering menanyakan betulkah ustadz fulan salafy? Atau surury?. Karena perkara tersebut akhirnya sebagian dari ikhwan ada yang futur akibat kebingungan, ada yang ikut salafi yamani dan sebagian bersikap pertengahan dalam masalah ini.
Adapun mereka yang ikut kepada salafi yamani, mereka sering sekali membicarakan ustadz-ustadz yang mereka anggap keluar dari barisan Ahlusunnah Wal Jama’ah disetiap akhir majelisnya, mereka sibuk akan hal tersebut, sedangkan yang bersikap pertengahan mereka tidak mau  larut didalam ghibah dan perselisihan tersebut dan sibuk dengan majelis ilmu, terutama yang memperdalam masalah aqidah tauhid.
Terus terang kalau bukan karena banyaknya pertanyaan dan permintaan untuk menerangkan masalah ini, serta melihat kebutuhan ikhwan Salafiyin di Samarinda untuk mengetahui sikap yang benar dalam masalah ini, apalagi sebagai dampak negatif dari fitnah ini, banyak orang awam yang kemudian enggan untuk mengambil manfaat ilmu dari para Ustadz Salafiyin di Indonesia, bahkan dari kebanyakan ulama Ahlusunnah zaman sekarang, karena nama baik mereka sudah dicemarkan sedemikian rupa, minimal diragukan kebenaran manhajnya, kalau bukan karena itu semua maka kami tidak akan menjawab pertanyaan antum tentang masalah ini.
Terbukti masalah fitnah ini sudah lama bergulir dan dampaknya sudah lama terasa, tapi baru sekarang kami mencoba menjelaskan masalah ini, dengan mempertimbangkan maslahat, wallahu a’lam.