ustadz-zainuddin-1.JPGSayyid Quthub adalah salah seorang ulama yang mati syahid demi membela agama Islam ,adapun beliau adalah manusia biasa yang kadang salah terkadang benar. Adapun kesalahan beliau dinilai berdasarkan tingkatannya. Adapun pendapatnya yang sesuai dengan Alqur’an Dan Asunnah kita ambil namun kesalahannya yang bertentangan dengan Alqur’an Dan Asunnah kita tinggalkan.

Oleh karena itu , siapapun dia , apakah dia orang yang terpandang maupun shalih dapat tertimpa hal serupa, bahkan syaikh robi’ sekalipun pernah tergelincir dalam tulisan maupun ceramahnya.[1]

Maka dapat menjadi suatu keharusan adanya suatu kaidah untuk dapat melindungi kehormatan mereka para ulama dari pencercaan, karena terjadinya suatu kekelireuan yang pasti menimpa dikalangan mereka. Orang-orang yang secara umum dipandang sebagai orang yang baik dan saleh tidak boleh direndahkan kedudukannya karena kesalahan yang dilakukannya. Hal itu tidak dapat ia elakan, kecuali oleh orang yang maksum.

Said Bin Al Musayyab berkata: “Tidak seorang pun yang terhormat maupun yang alim yang selamat dari cacat. Akan tetapi, ada diantara manusia ini orang-orang yang tidak patut disebut-sebut cacatnya jika orang itu kebaikannya jauh lebih banyak dari kekurangannya, dan kekurangannya tertutup oleh kelebihannya,”[2].

Dalam hal ini Ibnul Qoyyim berkata: “Kalau setiap orang yang berbuat keliru atau salah dibuang secara total atau segala kebaikannya dipandang tidak berarti sedikitpun , maka seluruh ilmu teknik keterampilan dan hukum menjadi rusak dan hancur lebur bangunannya.”[3].

Syaikh Al Allamah Abdul Azis Bin Abdullah Alu Syaikh berkata, “Kitab Tafsir Fizhilalil Qur’an adalah kitab yang bermanfaat . penulisnya menuliskannya agar Al Qur’an ini dijadikan sebagai undang-undang kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiah, tetapi penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat Al Qur’an yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam hidupnya…disana ada orang yang mengkritik sebagian istilah yang terdapat dalam kitab ini namun sesungguhnya hal-hal yang dianggap kesalahan ini adalah dikarenakan indahnya perkataan sayyid quthub dan tingginya gaya bahasa yang beliau pergunakan diatas gaya bahasa pembaca. Inilah sebenarnya yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya.Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthub.”[4]

Syaikh Manna Al Qahthan-rahimahullah- berkata,”Sayyid Quthub telah menjumpai tuhannya dalam keadaan syahid demi mebela aqidahnya dengan meninggalkan warisan pemikirannya dan yang paling terdepan dalam kitab tafsirnya yang berjudul fizhilalil qur’an.Ini adalah kitab tafsir yang sempurna bagi kehidupan dibawah naungan alqur’an dan petunjuk islam.Penulisnya hidup dibawah naungan alqur’an sebagaiman yng dipahami dalam judulnya, beliau menikmati keindahan dalam alqur’an dan mengungkapkannya dengan segala perasaannya; ungkapan yang jujur… kitab ini terdiri dari 8 jilid dan telah dicetak berkali-kali dalam beberapa tahunb, dikarenakan ia mendapat sambutan yang hangat dari para ilmuwan[5].

Kemudian Syaikh Al Allamah Bakr Abdullah Abu Zaid Hafizhahullah, anggota hay’ah kibar al-ulama Saudi Arabia, memberikan tanggapan tentang buku Syaikh Rabi’ Almadkhali yang berjudul: “Adhwa Islamiyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthb Wa Fikrih.” Syaikh Bakr berkata, “ Sesungguhnya dalam buku sayyid quthub rahimahullah yang berjudul ‘ muqawwimat at tashawwur al islamiy’ terdapat bantahan yang tegas terhadap orang-orang yang mengatakan wihdatul wujud. Untuk itu kamikatakan semoga allah mengampuni sayyid quthub atasperkataannya yang mutsyabih yang beliau utarakan dengan suatu uslub dimana terdapat ibarat yang luas didalamnya. Dan perkataan yangsamar dari sayyid quthub semacam ini harus dikalahkan dengan perkataan lain dari sayyid quthub yang tegas.”[6]

Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid juga mengatakan dalam surat terbuka beliau kepada Syaikh Rabi’.”Dan diantara daftar isi tertulis ‘perkataan sayyid quthub tentang khalqul qur’an dan bahwa kalam allah adalah ibarat suatu kehendak’…..Akan tetapi, ketika saya membaca halaman-halaman yang disebutkan, saya tidak mendapatkan satu hurufpun yang didalamnya menunjukan bahwa sayyid quthub rahimahullahu ta’ala mengatakan al qur’an itu makhluk.Kenapa begitumudahnya anda melemparkan tuduhan takfir ini?”

Surat terbuka ini sesungguhnya karena permintaan dari Dr robi’ sendiri kepada Syaikh Bakr agar bersedia memberikan pengantar atau komentar atas buku beliau yang menyerang sayyid quthub. Semula Syaikh Bakr yang juga banyak syair dan mengusai sastra arab enggan memberikan komentarnya . namun karena Dr.robi mendesak beliau agar berkenan memberikan komentarnya, akhirnya beliau menuliskan pendapat beliau yang sesungguhnya tentang buku “Adhwa Islamiyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthb Wa Fikrih.” (Pandangan islam atas aqidah dan pemikiran sayyid quthub).

Dalam surat yang cukup panjang lebar tersebut, Syaikh Bakr mengungkapkan ketidak setujuannya atas buku dimaksud dengan bahasa yang cukup keras namun santun. Syaikh juga menyebutkan kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan yang terdapat di buku tersebut. Diakhir surat syaikh bakr berpesan kepada Dr robi’ : “dan pada penutup surat ini , sesungguhnya saya menasehatkan kepada saudaraku yang terhormat fillah, agar menvcabut percetakan “Adhwa Islamiyah ‘ala ‘aqidati sayyid quthb wa fikrih.”. sesungguhnya buku ini tidakl boleh diterbitkan dan diedarkan karena didalamnya terdapat pelecehan yang amat berat dan pengaruh yang sangat besar terhadap para pemuda umat ini untuk terjerumus kedalam perbuatan mencela ulama, mendeskreditkan ulama, meremehkan kemampuan mereka dan melalaikan segala keutamaan mereka. Dan maafkanlah saya –semoga Allah memberikan berkah kepada anda- jika saya agak keras dalam menggunakan istilah. Hal ini tak lain karena saya melihat pelecehan anda yang sangat berat dank arena rasa sayang saya kepada anda, jika dikarenakan keinginan anda yang begitu menggebu untuk mengetahui apa pendapat saya tentang buku anda tersebut… maka , pena saya pun menuliskannya sebagaimana yang telah lalu. Semoga allah memberikan kebaikan kepada apa yang telah saya tulis dan kepada semuanya.” (Amin)

Syaikh Bakr juga mengatakan , bahwa perbedaan bahasa arab yang digunakan Syaikh sayyid quthub dan syaikh robi’ ibarat bahasa yang digunakan seorang mahasiswa dan anak I’dadi (persiapan bahasa). Sehingga anak yang masih I’dad tidak begitu faham dengan bahasa mahasiswa..

            Begitulah pendapat kami tentang Sayyid Quthub –rahimahullah-, bahwa pendapat kami terhadap Sayyid Quthub –rahimahullah-, sama dengan pendapat Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid, Syaikh Manna Al Qahthan Rahimahullah,Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin[7] Dan Syaikh Al Allamah Abdul Azis Bin Abdullah Alu Syaikh –Hafidzahullah-(Ketua Lajnah Da’imah Sekarang).   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




[1] Kesalahan dalam membaca Al-Qur’an:

 dalam kaset syekh robi bin hadi al-madkholi yang berjudul “Liqo` Tholabatil

Ilmi,” beliau membaca surat al-baqoroh 155 : wa lanabluwannakum bi syay`in minal khowfi wal juu’i wa naqshin minal amwaali wats-tsamaroot…

 

seharusnya : minal amwaali WAL ANFUSI wats-tsamaroot

kurang wal anfusi”

 

2. judul kaset : Al-Makhroj Minal Fitan surat ali imron 80

syekh robi membaca : maa kaana li basyarin an ya`tiyahullahul kitaaba

 

seharusnya : an YU`TIYAHULLAHUL kitaaba…

beliau membaca dengan fathah ya`, padahal seharusnya dengan dhommah ya`.

 

 

3. judul kaset : Al-Makhroj Minal Fitan

surat ali imron 80

syekh robi membaca : … wa laakin kuunuu robbaaniyyiina bimaa kuntum tatluunal kitaaba…

seharusnya : bimaa kuntum TU’ALLIMUUNAL kitaaba… ini salahnya fatal banget!

 

 

4. judul kaset : Shifat Al-Abror

surat ali imron 195

syekh robi membaca : fastajaaba lahum robbuhum innii laa udhii’u ‘amala

 

 

seharusnya : … robbuhum ANNII laa…

beliau membaca dengan kasrah hamzah. padahal seharusnya dengan fathah.

 

judul kaset : Asy-Syabaab wa Musykilaatuh surat an-nisaa` 83

syekh robi membaca : wa idzaa jaaaa`ahum amrun minal khowfi adzaa’uu bih

 

 

seharusnya : amrun minal AMNI AWIL khowfi …

kurang : dua kata (AMNI AWIL)

ini yang paling parah, karena terdapat dalam tiga kaset.

judul kaset : Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah; Wujubul Ittiba’ Lal Ibtida’; Nadwah ‘Anil Jihad Ma’a Ibni Jibrin

surat an-nisaa` 115

syekh robi al-madkholi membaca : wa man yusyaaaaqqir rasuula min ba’di…

(beliau membaca dengan mad lazim mutsaqqol kalimi. ini salah)

seharusnya : ... YUSYAAQIQIR rasuula min…

 

[2] Al bidayah wan nihayah , Ibnu Katsir 9/100

[3] Madarijus salikin, 2/39

[4] fatwa tertanggal 20/8/2005 M

   Berikut teks aslinya:

   مفتى المملكة يشيد بسيد قطب ومؤلفاته

20-8-2005

“…يأتي هذا التصريح من سماحة الشيخ عبد العزيز قاطعا للجدل الدائر حول كتاب ” في ظلال القرآن ” لاسيما وأنه صادر من أعلى مرجعية للفتوى في المملكة في وقت تشتد فيه الحملة على سيد قطب من قبل الكثير من التيارات الفكرية المعاصرة…”

أشاد سماحة الشيخ العلامة عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ مفتي عام المملكة بكتاب ” في ظلال القرآن ” لسيد قطب رحمه الله وذلك في أحد دروسه التي ألقاها مؤخرا.

ومما ذكره عن كتاب ” في ظلال القرآن ” أنه كتاب نافع كتبه مؤلفه ليجعل من القرآن نظام حياة وهو ليس تفسيرا بالمعنى الحرفي إلا أنه استخرج من القرآن الكثير مما يحتاج إليه المسلم.

وذكر سماحته أن هناك من شنع على بعض العبارات التي وردت في كتاب الظلال إلا أن هذه الأخطاء سببها علو كلام سيد وسمو أسلوبه فوق أسلوب القارئ وهذا ما لم يفهمه بعض من انتقدوه ولو أنهم أعادوا النظر وكرروا القراءة لتبين لهم خطأهم وصواب سيد قطب.

وأشار إلى أن سيد قطب كان له توجهات مخالفة للإسلام إلا أنه تاب منها وعاد إلى الصواب وانصرف إلى الكتابة في القرآن الكريم وقد وقعت له أخطاء في بعض كتبه القديمة أعلن تراجعه عنها فيما بعد كما وقع له في الظلال بعض الأخطاء التي سببها له قلة علمه الشرعي.

ودعا في كلمته إلى وجوب إحسان الظن بالناس وحمل كلامهم على أحسن المحامل كما أوصى طلبة العلم بقراءة كتاب الظلال والاستفادة مما فيه ونبه في كلامه إلى أن سيد قطب قتل شهيدا.

وأصدر حكم الإعدام على سيد قطب الرئيس المصري الأسبق جمال عبد الناصر بعد أن رفض سيد كتابة اعتذار أو طلب العفو منه وقد كانت هناك جهود كثيرة لرفع حكم الإعدام عن سيد والشفاعة في إطلاق سراحه منها محاولات قام بها الملك فيصل بن عبد العزيز رحمه الله إلى أنها باءت بالفشل.

ويعتبر سيد قطب رحمه الله وكتابه ” في ظلال القرآن ” أحد القضايا المحورية التي تدور عليها صراعات فكرية معاصرة وقد انقسم الناس في سيد قطب وكتاباته إلى مذاهب عديدة كان أحظاها بالصواب هو تقرير ما في كتبه من الأخطاء وهي قليلة مع الاعتذار له والإشادة بجهوده في خدمة الإسلام وتأصيل قضايا الدعوة والحكم بالشريعة.

ويأتي هذا التصريح من سماحة الشيخ عبد العزيز قاطعا للجدل الدائر حول كتاب ” في ظلال القرآن ” لاسيما وأنه صادر من أعلى مرجعية للفتوى في المملكة في وقت تشتد فيه الحملة على سيد قطب من قبل الكثير من التيارات الفكرية المعاصرة فمنهم من يحمله جميع أسباب العنف الموجود في العالم الإسلامي وأن كتبه رافد رئيس من روافد الغلو والعنف في العالم الإسلامي ومنهم من يرى أنه من الكفار المرتدين.

وتجدر الإشارة إلى أن مؤلفات سيد قطب والكثير من مؤلفات أخيه محمد قطب ممنوعة من التداول في العديد من الدول العربية بما فيها المملكة العربية السعودية.

 

[5] Mabhits fi ‘Ulum Al-Qur’an/Syaikh Manna’ Khalil Al-Qaththan/hal 362-363/penerbit maktabah Wahbah –Kairo Mesir

[6] Surat tertanggal 17/01/2004, bisa dilihat di  www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=94

 

 

[7] Fatwa Syaikh Abdullah Bin Jibrin (Anggota Ha’iah Kibaril ‘Ulama Al-Mamlakah Al-‘Arabiyyah As-Su’udiyyah) Tentang Hasan Al-Banna Dan Sayid Quthub :

Soal:

Segelintir pemuda mengelompokkan Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna sebagai ahli bid’ah berikut melarang membaca buku-buku mereka, serta menuduh beberapa ulama lainnya sebagai penganut faham khawarij. Alasan mereka melakukan itu semua adalah dalam rangka menjelaskan kesalahan kepada masyarakat, sedang status mereka sendiri masih sebagai para penuntut ilmu.

Saya sangat mengharapkan jawaban yang dapat menghilangkan keragu-raguan dan kebingungan saya mengenai hal ini.

 

Jawab:

Segala puji bagi Allah semata. Menggelari orang lain sebagai mubtadi’ (pelaku bid’ah) atau fasik (pelaku dosa besar) adalah perbuatan yang tidak dibenarkan atas umat Islam, karena Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya: “Wahai musuh Allah”, sedang kenyataannya tidak seperti itu, maka ucapannya itu menimpa dirinya sendiri.” (HR. Muslim).

“Barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim, maka ucapan itu tepat adanya pada salah satu di antara keduanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

“..bahwa ada seseorang yang melihat orang lain melakukan dosa, lalu ia berkata kepadanya: Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Maka Allah berfirman:

Siapakah gerangan yang bersumpah atas (Nama)Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan (pahala) amalmu.” (HR. Muslim).

Kemudian saya ingin mengatakan bahwa Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna termasuk para ulama dan tokoh dakwah Islam. Melalui dakwah mereka berdua,

Allah telah memberi hidayah kepada ribuan manusia. Partisipasi dan andil dakwah mereka berdua tak mungkin diingkari. Itulah sebabnya, Syaikh Abdulaziz bin Baaz  mengajukan permohonan dengan nada yang lemah lembut kepada Presiden Mesir saat itu, Jamal Abdunnaser -semoga Allah membalasnya dengan ganjaran yang setimpal untuk menarik kembali keputusannya menjatuhkan

hukuman mati atas Sayid Quthub, meskipun pada akhirnya permohonan Syaikh

Bin Baaz tersebut ditolak.

 

Setelah mereka berdua (Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna) dibunuh, nama keduanya selalu disandangi sebutan “Asy-Syahid” karena mereka dibunuh dalam keadaan terzalimi dan teraniaya. Penyandangan sebutan “Asy-Syahid” tersebut diakui oleh seluruh lapisan masyarakat dan tersebarluaskan lewat media massa dan buku-buku tanpa adanya protes atau penolakan.

Buku-buku mereka berdua diterima oleh para ulama, dan Allah memberikan manfaat – dengan dakwah mereka – kepada hambahambaNya, serta tak ada seorang pun yang telah melemparkan tuduhan kepada mereka berdua selama lebih

dari duapuluh tahun. Bila ada kesalahan yang mereka lakukan, maka hal yang sama telah dilakukan oleh Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu

Athiyah, Imam Al-Khaththabi, Imam Al-Qasthalani, dan yang lainnya.

 

Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Syaikh Rabie bin Hadi Al-Madkhali

(ulama muda Saudi yg anti IKHWAN-pen) tentang kitab bantahannya terhadap Sayid Quthub, tapi saya melihat tulisannya itu sebagai contoh pemberian judul yang sama sekali jauh dari kenyataan yang benar. Karena itulah,tulisannya tersebut dibantah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid (juga anggota haiah Kibaril Ulama KSA-pen) hafidzhahullah

 

 

Mata cinta terasa letih memandang aib

Tapi mata benci selalu melihat aib

 

 

Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin

 

 

26 Shafar 1417 H.